Cerpen setitik bintang

Setitik Cahaya Bintang

Share with

Suara notifikasi Hand-phone berbunyi membangunkan tidurku, tanda ada email masuk. Ternyata isinya adalah pernyataan bahwa aku lulus di salah satu Universitas Negeri. Sontak melompat kegirangan. Tak terasa hari-hari berlalu, sekarang aku adalah seorang mahasiswa jurusan seni musik. Sudah lama sekali ingin mengembangkan bakat bermain musik. Hari ini satu persatu mimpi terwujud. Bukan hanya mimpiku, tapi ini juga keinginan kedua orangtuaku. Mereka selalu ingin aku menjadi seorang pemain piano profesional.

“Yes, Aku lulus!”

Kegembiraan bergejolak dalam hati, tanpa sadar menabrak pintu kamar. Segera menemui ibu di dapur sambil menahan rasa denyut di kepala. Pagi ini akan kukejutkan dengan berita yang sangat membahagiakan. “Bu, ada yang ingin Bintang sampaikan.”
“Ada apa Nak, wajahmu sangat berbinar-binar. Pasti ini berita baik kan.” Seketika tak mampu berkata-kata, hanya ingin memeluk dengan erat. Tanpa sadar tetesan bening keluar dari sarangnya, aku menangis bahagia dalam pelukan ibu. Rasanya perjuangan berat terbayar lunas. Saat teman-teman yang lain menghabiskan waktu mereka berkumpul bersama, menonton, ataupun bermain game. Aku hanya sibuk belajar dan les untuk persiapan ujian tes masuk Universitas. Orang tuaku yang sudah berkorban, baik materi dan waktu. Ayah selalu menjemput pulang les pada malam hari, meski lelah pulang bekerja Ayah tidak pernah menggerutu. “Bu, Bintang lulus di Universitas Negeri dengan Jurusan yang Bintang impikan.” Sambil tersedu-sedu. “Wah, akhirnya kerja keras kamu tidak sia-sia Nak. Ibu bangga sama kamu, pasti Ayah senang sekali mendengar berita ini.” “Iya, terima kasih ya Bu. Ibu dan Ayah selalu mendukung, Bintang merasa menjadi anak yang paling beruntung memiliki orang tua yang sangat sayang sama Bintang.”
“Iya Nak, kamu jangan pernah berhenti belajar dan berdoa ya.” “Iya, Bintang sayang Ibu.” Beberapa kali ingin menghubungi ayah, rasanya tak sabar memberitahu berita yang bahagia ini. Ternyata ayah lebih dulu menghubungi, terlintas di benakku, apakah ibu sudah memberitahu ayah. Mengapa tiba-tiba menghubungiku, memang betul ia selalu menanyakan apakah sudah makan siang tetapi ini kan belum jam makan siang dan jadwal lesku juga sudah selesai. Barangkali ibu sudah memberitahu.
“Halo Yah, ada apa?”
“Apakah ini betul keluarga Aldi Wicaksono?”
“Iya betul, saya sendiri putri beliau.”
“Kami turut bersedih untuk memberitahukan bahwa ayah anda mengalami kecelakaan, sekarang berada di RS. Mitra Sejati. Kami pihak rumah sakit berharap keluarga beliau segera datang.”
Seperti petir menyambar, memaksa pelangi yang indah segera hilang digantikan dengan guntur mengerikan. Sekujur tubuhku kaku tak mampu berkata-kata, mengapa rasa bahagia yang belum sempat kubagikan telah digantikan oleh rasa sakit. Aku hanya mampu menjawab, baik dan terima kasih. Kemudian mengakhiri panggilan. Kakiku mati rasa aku duduk terdiam menahan tangis, berharap semua hanya mimpi. Hilang ketika terbangun. Walau mimpi indah juga ikut hilang, tak apa. Asalkan ayah yang kucintai tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Saat menemui ibu, tak kuasa hati ini ingin menyampaikan kabar duka. Aku sungguh tak ingin merusak senyum indah yang terlukis di wajah ibu. Namun mau tak mau aku harus menyimpan sementara senyum manis ibuku. Dengan berat hati mengatakan yang sejujurnya keadaan ayah saat ini.
“Bu, Bintang minta maaf harus menyampaikan kabar yang membuat ibu terluka.”
“Ada apa Nak, kenapa kamu tiba-tiba menangis. Bukannya tadi kita baru saja mendapat kabar bahagia? Kenapa, beritahu Ibu.”
“Ayah kecelakaan Bu, sedang di R.S Mitra Sejati.” Sambil memeluk erat ibu.
Tanpa kata ibu hanya diam dan membereskan perlengkapan dan menuju rumah sakit. Saat di bus, lagi-lagi diam hanya memeluk dan menggenggam tanganku. Sadar ini adalah bagian dari ungkapan ibu bahwa ia sangat merasa terpukul.
Sesampainya di ruangan ayah, ibu yang diam tiba-tiba tangisnya pecah memeluk tubuh yang dibaluti banyak perban. Sungguh tak sanggup melihat mereka yang kucinta dalam tangis yang sangat menyedihkan. Ayah belum membuka matanya, dokter mengatakan kalau beliau belum sadarkan diri. Ibu hanya menangis dan teriak berusaha membangunkan.
“Bang jangan tinggalkan kami, bangun bang putrimu segera kuliah. Mimpi kita sudah terwujud. Bangun bang.” Teriak ibu sambil menangis.
Hatiku benar-benar hancur. Aku memeluk ibu dan mencoba untuk menenangkannya. Namun air mata juga datang membanjiri pipi, kami berdua menangis sedih sambil menggenggam tangan ayah. Berharap Sang pemilik kehidupan memberi mukjizat.
Berbulan-bulan ibu hanya pulang ke rumah saat perlu saja lalu kembali merawat ayah di rumah sakit yang masih dalam keadaan koma. Beberapa minggu yang lalu, aku memutuskan untuk membatalkan melanjutkan kuliah, namun ibu memaksa harus tetap melanjutkan kuliah. Kata ibu, itu bukan hanya mimpimu, tapi mimpi kami juga. Melihat Bintang yang kami cinta di bawah lampu sorot memainkan piano.
Sangat berat rasanya, tak tega melihat ibu yang kewalahan sementara aku harus pergi meninggalkan ibu sendiri merawat ayah. Tak ingin kesedihan dua kali lipat, sehingga menyetujui permintaan ibu.
Sudah dua bulan lamanya ayah di rumah sakit, belum ada kabar jika sudah sadarkan diri, sementara aku di kampus sebagai mahasiswa baru berusaha keras memenangkan kompetisi untuk mewakili kampus tampil dan musik festival tingkat nasional. Setiap pagi dan malam aku tidak pernah lupa melangitkan doa untuk orang tuaku. Akan terasa sia-sia jika mereka tidak melihat penampilanku. Ini adalah mimpi mereka melihat aku bermain di panggung yang megah. Tapi itu tidak mematahkan semangat, mengingat ibu yang berjuang keras menjaga ayah dan membiaya kuliah. Hari ini adalah pengumuman final nama siapa yang akan berhasil tampil dalam musik festival nasional. Tak berharap banyak karena setiap hari hanya ingin ayah segera sembuh dan menghabiskan hari-hari bersama mereka.
Tak tahu harus menahan sedih atau senang karena namaku yang terpilih. Menangis sambil menyandarkan kepalaku pada papan pengumuman. Dengan tersedu, “Ayah, ibu. Bintang lulus, dan akan tampil di panggung megah seperti mimpi kita”. Segera menghubungi ibu, memberitahu bahwa aku berhasil tampil di Musik Festival Nasional.
“Halo, Ibu sehatkan?”
“Sehat Nak, ada apa? Semua baik-baik saja kan?” Tanya ibu dengan suara yang lunglai.
Aku tahu, pasti sangat lelah dengan situasi sekarang. Bagaimana tidak sudah hampir tiga bulan Ayah belum sadarkan diri.
“Bintang mau memberitahu, kalau Bintang akan tampil dalam musik festival nasional bulan depan Bu.” Sambil menangis
“Wah, anak Ibu lagi-lagi membuat bangga.”
Sayup-sayup terdengar ada yang memanggil namaku dari hand-phone, ternyata itu suara ayah.
”Bang, abang sudah sadar?” Terdengar suara ibu sambil menangis.
“Nak, Ayah sudah sadarkan diri.”
Sontak membuatku menangis bahagia, akhirnya ayah sadarkan diri. Kini Tuhan memberi mukjizat dalam keluarga kami. Aku tahu Tuhan tidak pernah tidur dan mengabaikan hambanya. Hari ini bahagia menyelimuti kami. Aku yang akan segera tampil dalam festival musik yang besar dan ayah yang sudah sadarkan diri. Kami pun mengakhiri percakapan dengan bahagia dan haru. Benar adanya selama kita tidak pernah berhenti berusaha dan berdoa, apa yang kita inginkan akan terwujud.
Malam ini adalah waktunya aku akan tampil di panggung megah dengan ribuan orang, meski mereka tidak bisa hadir secara langsung, mengingat ayahku belum bisa bepergian jauh. Namun kami memutuskan agar mereka menyaksikan melalui aplikasi Video call¬, yang dibantu oleh temanku Rani. Dalam gemerlap lampu sorot memainkan jemariku di atas piano dengan melantunkan melodi indah. Kini bintang yang tertutup telah menyilaukan cahayanya dalam pekatnya gelap. Aku adalah bintang untuk ayah dan ibu. Pertama kalinya tampil di panggung yang mewah dan megah, akan kupersembahkan untuk mereka yang sangat kucintai. Semoga Tuhan mengizinkan kami terus bahagia dalam keluarga yang sangat hangat ini. “Ayah dan ibu, Bintang sayang kalian.
Selesai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja